Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti sama.[2] Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama ((make to common).[2] Secara sederhana komuniikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. [3] Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another). [4]

Pada awalnya, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis.[5] Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi.[5] Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan. [5].

Pada binatang, komunikasi juga dilakukan dengan cara yang sederhana melalui tindakan – tindakan yang bersifat reflek.[2] Menurut sejarah evolusi sekitar 250 juta tahun yang lalu munculnya “otak reptil” menjadi penting karena otak memungkinkan reaksi-reaksi fisiologis terhadap kejadian di dunia luar yang kita kenal sebagai emosi.[rujukan?] Pada manusia modern, otak reptil ini masih terdapat pada sistem limbik otak manusia, dan hanya dilapisi oleh otak lain “tingkat tinggi”.[rujukan?]

Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman.[2] Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran.[rujukan?] Komunikasi dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan.[rujukan?]

Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.[rujukan?] Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.[rujukan?]

Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk “barang antik”, topik ini menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan sebagai “penemuan yang revolusioner”, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi komunikasi yang pesat seperti radio.[rujukan?] Televisi, telepon, satelit dan jaringan komuter seiring dengan industiralisasi bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia.[rujukan?] Komunikasi dalam tingkat akademi mungkin telah memiliki departemen sendiri dimana komunikasi dibagi-bagi menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komunikasi itu sendiri.[rujukan?]

Pelaku bisnis dalam menjalankan kegiatan bisnis akan menghadapi adanya risiko (risk) dan ketidakpastian (uncertainty). Risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diukur oleh pengambil keputusan dan pada umumnya menimbulkan kerugian bagi yang mengalami kejadian. Sedangkan ketidakpastian menunjukkan peluang suatu kejadian yang tidak dapat dan sulit diukur oleh pengambil keputusan.
Indikasi adanya risiko yang dihadapi pelaku bisnis ditunjukkan oleh adanya variasi atau fluktuasi dalam menjalankan kegiatan bisnis dengan asumsi kondisi input yang relative tetap.
Berikut adalah beberapa perusahaan yang mengandung risiko di dalamnya.
1. Industri Pesawat Terbang
Pesawat terbang sebagai salah satu alat transportasi massal merupakan industri yang amat potensial untuk dikembangkan. Terlebih lagi pada era globalisasi seperti sekarang ini, dimana banyak orang membutuhkan sarana yang cepat, nyaman, dan aman untuk membawa mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak ratusan kilometer.
Namun, pada kenyataannya industri ini merupakan industri yang padat modal. Industri ini juga memerlukan riset yang berkelanjutan demi meningkatkan kualitas dan kapasitasnya.
Dari segi risiko, industri ini memiliki risiko bisnis yang terbilang besar, sebab apabila tidak diiringi dengan pengetahuan, keahlian, dan pendanaan yang baik, bisnis ini dapat menjadi boomerang bagi pengusaha. Pengusaha tentu dapat mengalami kerugian yang amat besar, berlipat-lipat dari bisnis lainnya. Belum lagi faktor-faktor lain yang sering kali membuat industri pesawat terbang sepi, seperti cuaca, cuaca yang buruk kadang membuat orang enggan menggunakan pesawat terbang, isu-isu keselamatan dan keamanan, serta lainnya.
Sejauh ini risiko bisnis dari industri pesawat terbang masih dapat diprediksi maupun diperkirakan, permintaan dan penggunaan terhadap pesawat terbang pun masih terus bermunculan, sehingga industri ini msaih potensial dan efektif untuk dikembangkan, asalkan dengan pengelolaan dan menejerial yang baik.

2. Industri Kimia Farma
PT. Kimia Farma Tbk. Merupakan sebuah perusahaan pelayanan kesehatan yang terintegrasi, bergerak dari hulu ke hilir, yaitu : industri, marketing, distribusi, ritel, laboratorium klinik dan klinik kesehatan. Dengan dukungan kuat Riset dan Pengembangan, segmen usaha yang dikelola oleh perusahaan induk ini memproduksi obat jadi dan obat tradisional, yodium, kina dan produk-produk turunannya, serta minyak nabati.
Lima fasilitas produksi yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia merupakan tulang punggung dari segmen industri, dimana kelimanya telah mendapat sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan sertifikat ISO 9001, ISO 9002 dan ISO 14001 dari institusi luar negeri.
Semua komponen yang terdapat dalam perusahaan Kimia Farma termasuk risiko perusahaan. Risiko-risiko yang harus diantisipasi oleh perusahaan diantaranya adalah risiko dalam mendistribusikan suatu produk, risiko dalam perdagangan internasional, risiko dalam melakukan penelitian terhadap suatu produk obat-obatan yang akan dicipatakan, risiko dalam pemasaran produk, risiko manajemen keuangan,dan lain-lain.
Dalam mendistribusikan suatu produk perusahaan harus jeli dalam memilih komponen yang menungjang kegiatan distribusi, agar produk-produk yang akan didistribusikan tepat sampai kepada konsumen. Distribusi yang dilakukan oleh perusahaan mencakup Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua, serta di beberapa negara lain.

Diposkan oleh hidup dalam persepsi di 07:52 0 komentar

diversivikasi dalam resiko bisnis

Tujuan Perusahaan melakukan diversifikasi adalah untuk mengurangi tingkat resiko dan juga memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup. Dan dengan adanya persaingan antara perusahaan satu dengan yang lain perusahaan dapat menambah keragaman produknya untuk mendorong penjualannya.
Dalam menjalankan usahanya, Koperasi XYZ mempunyai visi dan misi tertentu. Salah satu misinya yaitu memberikan manfaat yang optimal bagi anggotanya. Misi ini diwujudkan dengan melakukan beberapa usaha berkembang yang salah satunya berupa usaha persewaan kendaraan yang ditangani oleh Unit Jasa. Usaha ini ditujukan untuk customer korporat dengan jangka waktu sewa tahunan. Saat ini persewaan kendaraan yang dilakukan terbagi atas 2 jenis usaha yaitu ada yang dilakukan dengan menggunakan perusahaan perantara dan ada pula yang dilakukan sendiri dengan langsung berhubungan dengan customer. Akan tetapi, customer pada usaha persewaan kendaraan tanpa perantara hanya berjumlah 1 perusahaan.

Permasalahan mulai timbul ketika Koperasi XYZ mengalami kerugian pada usaha persewaan kendaraan dengan perantara. Selain itu, customer pada usaha persewaan tanpa perantara juga mulai beralih pada rental kendaraan lain yang dapat memberikan harga sewa lebih rendah. Dengan adanya permasalahan ini, Koperasi XYZ harus membuat keputusan mengenai kelanjutan usaha persewaan kendaraannya, apakah koperasi tetap meneruskan usaha persewaan kendaraan atau justru menutup usaha tersebut.

Untuk mengidentifikasi penyebab dari permasalahan yang ada, maka dilakukan eksplorasi terhadap isu bisnis yang terjadi. Dari hasil eksplorasi isu bisnis tersebut, diketahui beberapa hal yang mungkin menjadi akar permasalahan, seperti persaingan yang ketat, biaya yang terlalu besar, turunnya harga kendaraan, serta kurangnya diversifikasi jenis usaha.

Sebelum memutuskan untuk menutup unit usaha persewaan kendaraan, Koperasi XYZ sebaiknya terlebih dahulu menganalisis beberapa alternatif solusi yang mungkin dilakukan yaitu tetap menjalankan usaha persewaan kendaraan dengan perantara (alternatif 1), tetap menjalankan usaha persewaan kendaraan tanpa perantara (alternatif 2), menjalankan usaha persewaan kendaraan harian (alternatif 3) yang dapat dilakukan di Jakarta atau di Bandung, dan melakukan investasi uang pada perusahaan persewaan kendaraan lain (alternatif 4). Untuk memilih alternatif yang terbaik, maka dilakukan perhitungan analisis kelayakan proyek. Berdasarkan perhitungan tersebut, diketahui bahwa semua alternatif layak untuk dilakukan. Akan tetapi, untuk memperkecil resiko maka alternatif 1 dan 3 Kota Jakarta dieliminasi. Selanjutnya, dilakukan pembobotan untuk setiap alternatif yang akan dilakukan. Dari hasil pembobotan, disimpulkan bahwa alternatif 4 mendapatkan alokasi dana sebesar 50% dari total dana, alternatif 2 mendapatkan 30% dari total dana, dan alternatif 3 Kota Bandung mendapatkan 20% dari total dana.

Implementasi solusi ketiga alternatif ini dapat dilakukan secara bersamaan. Tahap ini diawali dengan adanya perekrutan karyawan yang bertugas untuk menangani persewaan kendaraan tanpa perantara dan persewaan kendaraan harian di Bandung. Selanjutnya, kedua usaha ini akan dilakukan oleh karyawan tersebut sehingga tidak akan membebankan karyawan Unit Jasa Koperasi XYZ. Selama menjalankan ketiga alternatif tersebut, Koperasi XYZ melakukan evaluasi setiap 6 bulan sekali mengenai kesesuaian pengalokasian dana untuk setiap alternatif.


Dari berbagai model komunikasi yang sudah ada, di sini akan dibahas tiga model paling utama, serta akan dibicarakan pendekatan yang mendasarinya dan bagaimana komunikasi dikonseptualisasikan dalam perkembangannya.[3]
[sunting] Model Komunikasi Linear

Model komunikasi ini dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical of Communication.[6] Mereka mendeskripsikan komunikasi sebagai proses linear karena tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel).[rujukan?] Hasilnya adalah konseptualisasi dari komunikasi linear (linear communication model).[1] Pendekatan ini terdiri atas beberapa elemen kunci: sumber (source), pesan (message) dan penerima (receiver).[3] Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima.[rujukan?] Tentu saja hal ini merupakan pandangan yang sangat sempit terhadap partisipan-partisipan dalm proses komunikasi.[1]
[sunting] Model Interaksional

Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1954 yang menekankan pada proses komunikasi dua arah diantara para komunikator.[3] Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. [1] Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tapatnya melalui pengambilan peran orang lain.[6] Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat. [7] Satu elemen yang penting bagi model interkasional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan.[1]
[sunting] Model Transaksional

Model komunikasi transaksional dikembangkan oleh Barnlund pada tahun 1970.[4] Model ini menggarisbawahi pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung secara terus-menerus dalm sebuah episode komunikasi.[rujukan?] Komunikasi bersifat transaksional adalah proses kooperatif: pengirim dan penerima sama-sama bertanggungjawab terhadap dampak dan efektivitas komunikasi yang terjadi. [1] Model transaksional berasumsi bahwa saat kita terus-menerus mengirimkan dan menerima pesan, kita berurusan baik dengan elemen verbal dan nonverbal. Dengan kata lain, peserta komunikasi (komunikator) melalukan proses negosiasi makna.[3]